Farmasi dan Islam

Sumber: https://www.google.com/search?site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=715&bih=513&q=farmasi+dan+islam&oq=farmasi+dan+islam&gs_l=img.3…1494.4857.0.5596.17.13.0.4.0.0.154.1126.11j2.13.0….0…1ac.1.40.img..6.11.908.S-4r_5Uz1pM#q=Obat&tbm=isch&facrc=_&imgdii=_&imgrc=5DOBslV8pnCXjM%253A%3BbzCyB5qufY07FM%3Bhttp%253A%252F%252Fassets.kompas.com%252Fdata%252Fphoto%252F2013%252F01%252F29%252F1155115-ilustrasi-obat-obatan-780×390.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fhealth.kompas.com%252Fread%252F2013%252F09%252F12%252F0927504%252FObat.Penurun.Kolesterol.Statin.Manfaat.dan.Risikonya%3B780%3B390

            Islam telah menetapkan tujuan kehadirannya, diantaranya adalah untuk  memelihara agama itu sendiri, akal, rohani, jasmani, harta, dan keturunan bagi seluruh  umat manusia. Anggota badan manusia pada hakekatnya adalah milik Allah yang  dianugerahkan-Nya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Di satu sisi Allah memerintahkan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan fisik, di sisi yang lain Allah juga memerintahkan untuk menjaga kesehatan mental dan jiwa (rohani). Kesehatan manusia dapat diwujudkan dalam beberapa dimensi, yaitu jasmaniah material melalui keseimbangan nutrisi, kesehatan fungsional organ dengan energi aktivitas jasmaniah, kesehatan pola sikap yang dikendalikan oleh pikiran, dan kesehatan emosi-ruhaniah yang disembuhkan oleh aspek spiritual keagamaan

Farmasi oh farmasi, In Syaa Allah saya tidak salah memilih jurusan. Semenjak kelas 3 SMA saya sudah tertarik dengan ilmu farmasi, apalagi setelah saya tahu bahwa ilmuwan-ilmuwan Islamlah yang lebih awal meguasai ilmu farmasi dibanding Barat. Saya semakin terpacu untuk mempelajari farmasi.

“Setiap penyakit pasti ada obatnya.” Sabda Rasulullah SAW yang begitu populer di kalangan umat Islam itu tampaknya telah memicu para ilmuwan dan sarjana di era kekhalifahan untuk berlomba meracik dan menciptakan beragam obat-obatan. Saya semakin terpacu untuk mempelajari ilmu sintesis obat untuk membuat obat paten yang In Syaa Allah membawa maslahat untuk kesehatan umat.

Mari kita tengok perkembangan ilmu farmasi pada masa kejayaan Islam. Di masa itu para dokter dan ahli kimia Muslim sudah berhasil melakukan penelitian ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan dan efek dari obat-obat sederhana serta campuran.

Para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan. Menurut Turner umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama. Para ahli farmakologi Islam juga termasuk yang pertama dalam mengembangkan dan menyempurnakan pembuatan sirup dan julep.

Di zaman itu, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad – kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah – namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.

Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib – semacam badan pengawas obat-obatan – mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam mestinya menjadi contoh bagi negara-negara Muslim, khususnya Indonesia.

Kondisi sekarang berbanding terbalik. Dunia kefarmasian Islam mengalami kemunduran yang dimulai saat Khilafah Islamiyah runtuh pada tahun 1924. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita selaku generasi penerus Al Biruni, berusaha untuk mengembalikan kejayaan kefarmasian Islam. Caranya dengan mendekatkan Al Qur’an dan Hadist kepada calon farmasis Islam. Hal ini menjadi titik yang krusial, karena masih banyak calon farmasis Islam yang belum mengetahui dahsyatnya kandungan Al Qur’an dan Hadist dalam bidang kefarmasian. Ketika mereka berhasil memahami dan merasakan ilmu dari Al Qur’an dan Hadist, maka dalam proses selanjutnya yaitu pengembangan ilmu kefarmasian, pasti akan berpedoman kepada dua rujukan tersebut.

Meluasnya ranah farmasi saat ini yang meliputi 3 hal yaitu obat, makanan, dan kosmetik hendaknya disikapi dengan bijak. Ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi yang terus berkembang mengakibatkan bervariasinya ketiga produk tersebut. Di sinilah tantangan bagi farmasis Islam. Mungkin, industri obat sudah menerapkan cGMP (current Good Manufacturing Practice) dalam setiap produksinya, begitu juga dengan industri makanan dan kosmetik yang telah menetapkan standar posedur operasional. Namun, dalam komposisi bahan-bahannya dan selama proses produksinya, menggunakan bahan yang haram atau halal dan bagaimana produksinya, itu masih menjadi tanda tanya. Masalah tersebut bukanlah masalah yang kecil bagi umat Islam karena mempengaruhi kesempatan terkabulnya doa seseorang.

Sebagai contoh pada produksi obat-obatan sintetis. Sediaan yang berbentuk cair acap kali menggunakan etanol sebagai pelarutnya, terutama pada obat batuk. Selain itu, cangkang kapsul yang dibuat dari gelatin dapat berasal dari tulang atau kulit babi, sapi, atau ikan. Hormon, enzim, dan vitamin yang merupakan produk hasil bioteknologi bisa menggunakan mikroba maupun media yang haram. Plasenta yang terkadang berasal dari manusia mampu meregenerasi sel-sel kulit dan mencegah penuaan, sehingga dimanfaatkan sebagai kosmetik. Teknologi kloning yang dimulai pada tahun 1962 juga mengundang kontroversi dan menyebabkan bukan hanya ilmuwan di bidang rekayasa genetika saja yang berkomentar, melainkan juga melibatkan alim ulama.

Untuk menangkap peluang dan menjawab tantangan di atas dalam rangka mencapai kebangkitan farmasi Islam, membutuhkan peran serta dari farmasis Islam yang berada di semua sektor. Mulai dari akademisi di perguruan tinggi, lembaga dakwah kampus, pemerintah, hingga industri. Di perguruan tinggi, farmasis Islam yang menjadi dosen dapat memasukkan materi kefarmasian Islam dalam mata kuliah agama Islam, seperti yang telah dilakukan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Di sana, calon farmasis dikenalkan dengan ilmu-ilmu praktis mengenai kehalalan vaksin, sertifikasi halal, Indonesia sebagai pusat halal sedunia, dan lain sebagainya. Untuk lembaga dakwah kampus, bisa menyelenggarakan kajian, diskusi, ataupun seminar dengan topik yang berkaitan dengan kefarmasian Islam, seperti yang mulai diinisiasi oleh KMMF UGM.

Farmasis Islam yang berada di pemerintahan, melalui BPOM hendaknya memberikan edukasi kepada masyarakat dalam memilih produk yang aman. Untuk  LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) MUI tidak hanya bertugas meneliti, mengkaji, menganalisis, dan memutuskan produk pangan, obat, dan kosmetik aman dikonsumsi dari sisi kesehatan dan Islam, tetapi juga memberikan bimbingan kepada masyarakat umum. Pada Maret 2012 lalu, LPPOM MUI telah meluncurkan buku yang berisi tata cara sertifikasi halal yang dilengkapi dengan informasi tentang persyaratan sertifikasi halal tersebut. Dengan adanya buku tersebut, diharapkan akan mempermudah industri yang ingin mengajukan sertifikasi halal.

Seandainya seluruh sektor yang terkait tersebut melakukan perannya dengan baik, niscaya kebangkitan farmasi Islam akan menjadi kenyataan. Insya Allah… Pertanyaannya, ketika saat itu tiba, apakah kita akan menjadi pelaku sejarah atau hanya sebagai penonton?

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/28/me65pb-inilah-sumbangsih-islam-bagi-dunia-farmasi (diakses tanggal 13 April 2014, pukul 00.09)

http://kmmf.farmasi.ugm.ac.id/2012/12/18/menuju-bangkitnya-farmasi-islam/ (diakses tanggal 13 April 2014, pukul 12.59)

http://kangmuz.wordpress.com/2011/07/29/memahami-ayat-ayat-dan-hadits-nabi-tentang-kesehatan/ (diakses: 12/04/2014)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s