Info Lomba.com

sobat info lomba

Advertisements

Menarik..(Judul= Tidak Siap)

‪#‎Tidak‬ Siap.. #

Oleh :
Ust. Badrusalam, Lc.

Kita terkadang tidak siap untuk menjadi murid..
Ketika melihat sebuah kesalahan dari guru..
Kita segera pergi meninggalkannya..Dan menggunjingnya dbelakangnya..
Padahal guru kita adalah manusia bukan Nabi..

Kita terkadang tidak siap untuk menjadi guru..
Ketika diingatkan sebuah kesalahan..
Sering muncul keangkuhan..
Padahal tanda keikhlasan adalah menerima kritikan yang baik..

Kita terkadang tidak siap untuk menjadi besar..
Mudah terkena ujub dan merasa nikmat dengan kehormatan..
Bila kita merasa direndahkan..
Kesombongan seringkali muncul menggelapkan hati..

Kita terkadang tidak siap untuk menuntut ilmu..
Sering tidur di kajian atau berbincang bincang..
Padahal salaf terdahulu amat hormat kepada ilmu..
Mereka duduk seakan ada burung bertengger di atas kepala..
Karena ilmu jauh lebih mulia dari harta..

Kita terkadang tidak siap menjadi kaya..
Tertipu dengan dunia dan lupa kepada sang pencipta..
Rasa pelit membelit hati.. Dan memandang sepele kaum fuqoro..
Padahal harta hanya titipan Allah kelak ia akan ditanya..

Kita terkadang tidak siap untuk meniti jalan menuju surga..
Hawa nafsu masih diperturutkan..
Syahwat menjadi hiasan kehidupan..
Padahal surga dikelilingi dengan sesuatu berat..

🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏🍏

ANAS(Aliansi Nasional Anti Syiah)

Bismillah..
Deklarasi Nasional Anti Syi’ah
Tanggal : 20 Jumadits Tsaniyah 1435 H bertepatan dengan 20 April 2014
Tempat : Masjid Al-Fajr, Jalan Cigatra, Bandung

Acara ini dihadiri oleh berbagai ulama dan masyarakat dari berbagai kota di Indonesia, tempat yang awalnya disediakan untuk sekitar 7000 orang pun sampai harus berdiri dan di luar dikarenakan semangat masyarakat dalam mengusir syi’ah dari Indonesia
Sekitar 100 ulama telah menyetujui terbentuknya deklarasi ini, dan sebelum menandatangi resminya terbentuknya deklarasi ini, 12 orang yang merupakan perwakilan dari berbagai ormas dan ulama menyampaikan orasinya untuk menyemangati kaum muslimin dan menunjukkan seberapa pentingnya deklarasi ini

Berikut merupakan ringkasan secara garis besar orasi dari ulama – ulama tersebut :
1..K.H Abdul Hamid Baldlowi (Sesepuh Nahdlatul Utama sekaligus pengasuh ponpes Al Wahdad)
“Mudah-mudahan poros ini bermanfaat dan berkembang. Aliansi ini lahir karena orang syi’ah mengatakan bahwa imam mereka lebih utama dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Itu merupakan pelecehan dan merendahkan martabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengkafirkan sahabat nabi, cepat lambat akan terjadi benturan-benturan. Semoga kita mendapat bimbingan dari Allah. Syi’ah merupakan antek-antek yahudi”

2. Prof. Dr. K.H Maman Abdurrahman (Ketua PP Persis, sekaligus dosen Unisba yang melakukan penelitian tentang syi’ah)
“(Membacakan surat At-Taubah ayat 100). Penelitian dari tahun 1984, menunjukkan beberapa hal, antara lain dari kitab ushulul kafi adalah banyak kata-kata yang memojokkan. Qur’an mushaf fatimah berisi 17000 ayat. Saya pernah bertemu dengan orang di Sudan dimana orang tersebut tidak pernah ikut shalat berjama’ah dan shalat jum’at, yang merupakan ciri orang syi’ah. Di Amerika, saya bertemu sekelompok jama’ah yang shalat berjama’ah di seberang masjid sunni.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anha disebut berhala quraisy, kita disebut sebagai kaum nashibi yang halal harta dan darahnya, karena itu banyak pembantaian yang dilakukan orang syi’ah terhadap sunni di berbagai negara timur tengah”

3. Prof. Dr. Muhammad Baharun (Ketua MUI Pusat bid. hukum & perundang-undangan)
“Mewakili tarbiyah islamiyah di Sumatera. Semoga aliansi ini menjadi lebih solid. Perlu adanya koordinasi dengan MUI agar lebih kokoh. Perlu konsolidasi konsultasi dengan MUI. Data-data tentang syi’ah sudah lengkap tetapi yang kurang dari kita adalah strateginya. Ulama-ulama harus tegas. Beberapa hal yang penting antara lain adalah :
a. Kebersamaan. Pertikaian antar jama’ah atau kelompok harus dihindari, dan diharapkan aliansi ini dapat menyatukan umat dan menegaskan MUI dalam masalah syi’ah
b. Sosialisasi penggunaan nama khulafaur rasyidin, karena masih kurang orang-orang yang menggunakannya. Contoh nththama bayi lahir, nama masjid, mushalla, asrama, asrama putri diberikan nama-nama ummahatul mukminin, agar dapat menyempitkan gerakan syi’ah
c. Pemberdayaan khatib dan da’i, agar memberikan penjelasan mengenai penyimpangan syi’ah
Syi’ah telah memberikan ancaman yang berbahaya, seperti di negara suriah dan lebanon. Harus punya program dan strategi terencana. Semua partai sudah ada orang syi’ahnya. Apa tujuannya kalau bukan kekuasan. Umat islam harus bersatu !”

4. K.H. Muhammad Said Abdus Shamad, Lc. (Ketua LPPI Makassar)
“Tersebarnya aliran sesat lebih buruk daripada tentara penjajah yang tersebar, dikarenakan aliran sesat merusak dunia dan akhirat. Akibat dari terlalu percaya pada syi’ah adalah seperti di Iraq dimana syi’ah mengajak perbuatan damai, lalu masuk ke angkatan bersenjata dan pemerintahan. Diharapkan aliansi ini terus menyebar
Bahaya syi’ah menurut buku MUI : merusak aqidah, moral, dan terdapat piramid yang tujuan akhir dari syi’ah adalah mendirikan negara syi’ah di Indonesia
Tidak ada lagi at-taqrib(kerjasama) dengan syi’ah, tidak ada tempat untuk syi’ah di Indonesia karena Indonesia adalah sunni”

5. Prof Dr. Muslim Ibrahim (Ketua MPU Aceh)
“Di Aceh, aqidah yang berjalan adalah aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Syi’ah menurut ulama ahlu sunnah adalah diluar sunni. Deklarasi ini seperti fajar dan laksana hilal yang akan menjadi purnama. Kita lakukan ikhlas untuk membela agama Allah 
(membacakan surat Muhammad ayat 7) Semoga deklarasi ini bisa menguatkan hati kita”

6. Habib Ahmad bin Zein al-Kaff (Pengurus MUI Jatim, ketua FAAI Jatim)
“Semoga acara ini dapat menyenangkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena untuk menjaga sunnah beliau. Bahaya yang telah mengancam negara, karena di negara-negara timur tengah telah terjadi pembunuhan antara ahlu sunnah dan syi’ah
Sebagai ahlu sunnah wal jama’ah, maka harus siap berkorban harta dan jiwa. 
Orang-orang yang dikader di Iran atau pesantren syi’ah kembali dan mencela pemimpin islam, mengkafirkan sahabat dan istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Sudah beberapa orang masuk ke NU dan Muhammadiyah juga dikarenakan dicuci otaknya dengan dana yang sangat besar
Mana bukti cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau ? Ummul mukminin dihina tetapi kita diam saja”

7. Perwakilan dari Drs. K.H. Nuruddin A. rahman, S.H
“Di Madura sendiri sudah terbukti terjadi pertikaian antara sunni dan syi’ah. Cukup Madura saja terjadi seperti itu. Mereka meragukan al-qur’an. Kita sudah bukan hanya musyawarah lagi, tetapi sudah harus aksi. Sudah jelas mereka bukan islam

8. K.H. Muhammad Al-Khaththath (Sekjen FUI)
“Harus jelas bagaimana cara atau aksi untuk mengkonter syi’ah. Jalaludin rakhmat sudah dilaporkan ke mabes polri, semoga bisa dijebloskan ke dalam penjara. Pengalaman kasus ahmadiyah, secara organisasi masih jalan padahal telah masuk SKB Mabareskrim
Kita punya momentum, pada pilpres, siapa yang dapat membuat MoU untuk berkomitmen dalam mengusir syi’ah dan aliran sesat
Jalaludin rakmat jangan sampai jadi menteri agama. Dia bergandengan dengan JIL
Perlu FUUI membuat tim intelijen membuat pengumpulan informasi agar mendapatkan bukti
Cholil Ridwan telah mempelopori penyatuan 5 partai islam. Apabila partai itu bergabung maka kemungkinannya sangat besar untuk mewujuudkan Indonesia bersyariah. Bila Jokowi jadi presiden, kemungkinan besar menteri agamanya jalaludin rakhmat.sangat berbahaya
Jangan sampai sesama sunni ribut sendiri. Mari satukan tekad, saatnya menangkan islam. Bekerja keras untuk membersihkan syi’ah”

9. K.H. Ahmad Cholil Ridwan, Lc (Ketua MUI Pusat)
“Bicara syi’ah tidak bisa dengan emosi maupun ilmu., tetapi harus menggunakan siasat karena syi’ah sudah terlalu kuat. Buktinya syi’ah telah mempengaruhi dunia. Syi’ah di Jember minoritas, tetapi berani demo, beberapa orang tewas
Banyak pesantren yang masih belum mengetahui kesesatan syi’ah
Siapa yang telah mengamalkan sekularis liberalis maka telah kafir. Kita tidak boleh tunduk kepada hukum selain al-qur’an. Kita semua bisa disebut dzalim,fasiq karena masih menggunakan hukum selain islam.
Pemimpin pemerintahan harus dari masjid, rapat di masjid, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat besar adalah dalam masalah politik
Zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pemuda – pemuda latihan militer di masjid. Wajib militer merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana mau berjihad bila tidak berlatih”

10. Ustadz Farid Ahmad Okbah, M.A (Ketua Islamic Center Al-Islam, Bekasi)
“Syi’ah di Indonesia 300.000 orang menurut perhitungan maksimal, bukan jutaan menurut orang syi’ah. Kita harus tegas. Muara syi’ah di Indonesia :
a. IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia), dalam bukunya : rukun iman syi’ah ada 5, rukum islam ada 11
b. ABI –>tahun 2011
Lihat Maroko, ulama-ulama berbincang selama sebulan untuk menyikapi masalah syi’ah sehingga dubes ditutup dan aset syi’ah diberikan ke negara”

11. Drs. K.H. Abdul Muis Abdullah (Ketua MUI Balikpapan)
“Di Balikpapan telah dilakukan sosialisasi”

12. K.H. Abu Jibril
Orang syi’ah mengatakan bahwa syi’ah bukan islam, tetapi kenapa orang islam berkata bahwa syi’ah adalah islam

13. K.H Athian Ali M. Da’i, Lc, M.A.
“Anak-anak telah banyak disimpangkan oleh pemahaman sesat seperti syi’ah. pemerintah wajib membela agama yang sudah diakui. Siapapun tidak berhak untuk menodai agama yang sah. Aqidah merupakan harga yang paling tinggi
Demi aqidah kita siap untuk mengorbankan waktu, harta, atau bahkan JIWA !”

(membacakan isi deklarasi)

Bismillaahirrahimaanirrahiim
Bertitik tolak dari fakta:
Bahwa ajaran Syi’ah menurut keyakinan ummat Islam merupakan paham yang menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah.
Bahwa kelompok Syi’ah di Indonesia semakin berani dan semakin masif mempropagandakan paham dan ajarannya lewat segala macam cara, di antaranya dengan taqiyyah (munafiq), baik melalui pendidikan, sosial kemasyarakatan, maupun politik.
Bahwa telah terjadi keresahan di berbagai daerah yang menimbulkan konflik horizontal sebagai akibat progresivitas penyebaran Syi’ah, penolakan ummat serta pembiaran politik terhadap pengembangan ajaran sesat Syi’ah
Maka dengan mengucapkan bismillaah dan bertawakkal hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kami para ‘ulama, habaib, asatidz, pimpinan ormas Islam, pondok pesanten dan harakah yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti Syi’ah sepakat menyatakan komitmen dan tekad kami:
1.Menjadikan lembaga Aliansi Nasional Anti Syi’ah sebagai wadah dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
2.Memaksimalkan upaya preventif, antisipatif, dan proaktif membela dan melindungi ummat dari berbagai upaya penyesatan aqidah dan syariah yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah di Indonesia.
3.Menjalin ukhuwah Islamiyyah dengan berbagai organisasi dan gerakan dakwah di Indonesia untuk mewaspadai, menghambat, dan mencegah pengembangan ajaran sesat Syi’ah.
4.Mendesak pemerintah agar segera melarang penyebaran paham dan ajaran Syi’ah serta mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, dan lembaga yang terkait dengan ajaran Syi’ah di seluruh Indonesia
Demikian komitmen dan tekad kami. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat, karunia, inayah, taufiq, dan hidayahNya. Aamiin Yaa Allah, Yaa Rabbal-’aalamiin.

Bandung, 20 Jumadits Tsaniyyah 1435 H / 20 April 2014 M

Pengurus Harian: KH Dr. Athian Ali M. Da’i Lc. MA

Dewan Pakar: KH Atif Latifulhayat S.H., L.L.M, PhD

Majelis Syuro’: KH Abdul Hamid Baidlowi

———————————————————————

Semoga saudara-saudara, kaum muslimin di berbagai wilayah yang tidak sempat hadir ke acara ini, dapat merasakan bagaimana semangat dari para asatidz dan ulama serta seluruh masyarakat Indonesia secara umum untuk bersama-sama membela aqidah dari syi’ah yang sesat dan menyesatkan. Semoga ini menjadi langkah awal untuk persatuan umat. Semoga Allah melindungi kita semua. aamiin

Saya juga ikut kesana..’

Tapi tulisan dan foto diatas saya ambil(baca: kopi paste) dari teman saya 🙂

Demokrasi….

Machiavellianisme dan Intelijen Hitam di Pemilu 2014

Para aktivis Islam yang mengaku hanya menunggangi demokrasi untuk menegakkan syariat Islam juga terjerumus menjadi Machiavellian. Segala cara dihalalkan asalkan tujuannya memenangkan pemilu dapat tercapai.

Penulis meyakini bahwa masuk ke dalam sistem demokrasi demi penegakan syariat Islam adalah ijtihad. Sementara, tidak mengikuti pemilu dan berdemokrasi ria juga merupakan ijtihad. Ijtihad tidak bisa menggugurkan ijtihad lainnya.

Mengikuti sistem demokrasi itu ada dua aspeknya. Ta’amul danTahakumTa’amul itu bermuamalah, sementara Tahakum itu berhukum. Sebagian aktivis Islam, kita berhusnudzon padanya, bahwa mereka mengikuti pemilu atau masuk ke dalam sistem demokrasi itu dalam rangka Ta’amul (bermuamalah) bukan dalam rangka Tahakum, yang sudah kita yakini sebagai syirik akbar.Ta’amul dalam perkara kebatilan macam demokrasi ini seharusnya dikategorikan sebagai Ta’amul yang dharurat (dalam kondisi terpaksa).

Antara Ber-Demokrasi dan Memanfaatkan Celah Demokrasi

            Sering sekali saya mendengar, orang-orang yang pro demokrasi bahwa seharusnya orang antidemokrasi tidak menikamati sedikitpun produk-produk demokrasi seperti demo, dan subsidi-subsidi dari Negara. Saya pernah terkecok dengan kalimat teman saya diatas. Tapi ternyata, Jika yang dimaksud produk demokrasi berupa pelayanan negara terhadap rakyatnya seperti subsidi-subsidi kebutuhan-kebutuhan rakyat dan bentuk pelayanan lain, maka bukan hal ini yang jadi fokus pembahasan kita. Pelayanan-pelayanan tersebut hakikatnya adalah hak rakyat sendiri yang harus ditunaikan oleh negara tanpa melihat sistem yang dianut oleh negara tersebut, pasalnya negara yang tidak menganut sistem demokrasi pun melakukan hal yang sama, itupun ditambah bahwa subsidi-subsidi itu juga berasal dari uang rakyat yang ditarik oleh pemerintah melalui pajak. Jadi menikmati pelayanan negara hakikatnya adalah mengambil kembali hak rakyat yang diambil oleh negara berupa pajak dan lain-lain. Fokus pembahasan kita adalah pada metode perjuangan Islam melalui sistem demokrasi atau di luar sistem demokrasi.

            Berjuang melalui sistem demokrasi secara umum bermakna partisipasi aktif dalam sistem demokrasi melalui partai politik kemudian masuk parlemen hingga memegang jabatan eksekutif di negara ini, kesemuanya dilakukan dengan harapan dapat melakukan Islamisasi di berbagai bidang yang telah dimasuki hingga penegakkan Islam itu sendiri sebagaimana diyakini aktivis-aktivis Islam pro demokrasi.

Berjuang diluar sistem demokrasi secara umum bermakna berjuang dengan tidak masuk ke sistem demokrasi, tidak ikut partai politik, tidak ikut pemilu, dan tidak mendukung segala upaya penegakkan Islam melalui jalur sistem demokrasi, penegakkan Islam ditempuh dengan jalan dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah.

Yang antidemokrasi

            Hal-hal yang sering didengungkan seputar kebathilan demokrasi tak lepas dari, proses tahkim (berhukum kepada selain hukum Allah), tasyri’ (membuat hukum dan menyampingkan hukum Allah) dan segala bentuk turunan dari kedua hal diatas yang secara langsung berkonsekuensi haram, kufur ataupun syirik.

Yang prodemokrasi

Sementara pihak yang memandang demokrasi dapat digunakan untuk memperjuangkan Islam memandang resiko yang berkonsekuensi haram, kufur ataupun syirik harus diambil demi mashlahat dan tentu dengan upaya meminimalisir sedemikian rupa resiko tersebut.

Perbedaan-perbedaan mendasar antara sistem Islam dan demokrasi juga disebutkan oleh Prof.TM Hasbi Asshidieqiy dalam bukunya “Ilmu Kenegaraan Dalam Fiqih Islam”, diantaranya

  1. Konsep rakyat, dalam demokrasi konsep rakyat diikat oleh batasan geografis, persamaan darah, jenis, dan adat istiadat, sementara dalam Islam konsep rakyat diikat oleh kesamaan aqidah.
  2. Konsep tujuan dalam demokrasi semata-mata bersifat duniawi dan materialistis sementara dalam sistem Islam seperti disebutkan Ibnu Khaldun,”Imamah itu adalah untuk mewujudkan kemashlahatan akhirat dan kemashlahatan dunia yang kembali kepada kemashlahatan akhirat, karena kemashlahatan dunia dalam pandangan syara’ harus di’itibarkan dengan segala kemashlahatan akhirat”.
  3. Kekuasaan rakyat dalam demokrasi bersifat mutlak. Rakyat yang menentukan dan membuat undang-undang. Tetapi dalam Islam kekuasaan rakyat dibatasi dengan aturan-aturan Islam yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah.

 

Alon-alon asal klakon, In Syaa Allah

Sekarang kita kembali kedalam pembahasan Kultur Demokrasi yang bisa menjadi celah untuk dimanfaatkan dalam memperjuangkan Islam tanpa harus masuk kedalam sistem yang penuh resiko melanggar batasan syariat. Sebut saja, persamaan hak asasi, kebebasan/kemerdekaan berpendapat maupun berorganisasi, kebebasan pers sebagai media kontrol sosial bagi pemerintah merupakan celah-celah yang halal dan tidak melanggar batasan syariat bila digunakan sesuai syariat Islam itu sendiri. Sebagai contoh memberikan tekanan kepada pemangku pemerintahan untuk merubah atau melahirkan sebuah kebijakan dengan people power berupa demonstrasi, mimbar bebas dan media-media lain adalah hal yang secara otomatis ada dalam kultur demokrasi, aktivis Islam yang memanfaatkan hal tersbut tidak bisa dikatakan secara mutlak bahwa mereka sedang berdemokrasi, tapi lebih tepat dikatakan memanfaatkan celah demokrasi dan menjalankan misinya berupa amar ma’ruf nahi munkar dengan kemasan yang disediakan oleh kultur demokrasi.

Memanfaatkan celah demokrasi

Masih banyak hal lain yang bisa dimanfaatkan oleh aktivis Islam anti demokrasi dalam kultur demokrasi termasuk membangun kekuatan yang terorganisir untuk kemudian hari digunakan dalam merubah sistem demokrasi ke sistem Islam dengan jalan jihad fi sabilillah sekalipun.

Sekali lagi kesemuanya adalah usaha memanfaatkan celah demokrasi tanpa pemilu, parlemen dan sisi lain demokrasi praktis yang bathil.

Tujuan kita adalah…

Saling mempengaruhi dan mendakwahkan gagasannya ke khalayak itu hal wajar bagi siapaun yang ingin menyelamatkan ummat Islam sesuai dengan keyakinannya. Selalu mengingat tujuan yaitu Iqomatuddin (menegakkan Islam) adalah hal penting yang tidak boleh dilupakan sesaat pun supaya kita tidak terlena dengan strategi dan kemudian menempatkan strategi menjadi tujuan.

Demokrasi, Mesin Penghancur Jihad fie Sabilillah

International Affair Review sebuah lembaga penelitian kebijakan luar negeri Amerika di bawah naungan George Washington University mempublikasi sebuah laporan berjudul “Rethinking The Relationship between Democracy and Terrorism.” Dalam laporan tersebut dibahas salah satu strategi melawan terorisme (jihad) adalah dengan mempromosikan dan atau mendukung demokratisasi di negara-negara yang berpotensi melahirkan para teroris (mujahid) seperti di negara-negara Timur Tengah.

Promosi dan dukungan terhadap demokratisasi harus dilaksanakan secara terpisah dengan strategi kontra-terorisme untuk menghindari resistensi walaupun kedua hal tersebut saling berhubungan. Kebebasan sipil, kesempatan partisipasi politik, penegakkan hukum yang stabil diyakini menjadi latarbelakang demokratisasi terbukti secara empiris dapat menekan terorisme (jihad fi sabilillah).

Demokrasi

Tentu program ini tidak lepas dari salah satu tujuan yang telah kita bahas diatas yaitu mempengaruhi umat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam sistem demokrasi yang tanpa sadar menyeret mereka untuk kembali melupakan jihad fi sabilillah atau minimal menjadikan jihad fi sabilillah hanyalah berupa jargon dan slogan-slogan kosong tanpa amal nyata sesuai ketentuan syariat.

Program dikemas sedemikian rupa dengan memainkan isu, opini dan publikasi-publikasi baik bersifat positif maupun negatif, kesemuanya bermuara pada tujuan yaitu partisipasi dalam demokrasi dari kaum Muslimin dan menyibukkan mereka dengan hal tersebut sehingga meninggalkan segala upaya untuk merealisasikan perjuangan melalui jalan jihad fi sabilillah. Umat harus waspada dan cermat melihat fenomena ini, tidak perlu menari diatas genderang musuh, makar ini hanya pengulangan dari makar-makar masa lalu.

Menilik fakta dalam konteks Indonesia, strategi ini spertinya memang efektif dan relatif berhasil, hal ini terbukti dengan fenomena hilangnya militansi dari aktivis-aktivis Islam berserta tokoh-tokohnya ketika mereka terjun dan mengarungi sistem demokrasi, terlebih semangat jihad fi sabilillah yang kian hari kian menghilang dari mereka.


Menjayakan Islam dengan Politik ala Taliban

Perdebatan yang alot…

Perdebatan seputar cara menegakkan Islam dalam tingkat negara, antara masuk ke dalam sistem di bawah payung demokrasi atau melalui cara lain di luar sistem demokrasi telah memenuhi banyak halaman buku, mimbar-mimbar masjid, meja-meja seminar dan lain sebagainya. Perdebatan ini tidak pernah usai dan menghasilkan kata sepakat kecuali dalam satu hal. Yaitu, tujuan mereka adalah  menegakkan Islam dan demi kebaikan Islam.

Pihak Prodemokrasi

Pihak yang masuk sistem memiliki jawaban yang jelas berdasarkan realitas yang berjalan. Yaitu, ketika muncul pertanyaan, apa saja yang anda lakukan dan bagaimana langkah-langkah kongkrit ketika anda masuk sistem demokrasi.

Pihak Antidemokrasi

Pihak di luar sistem mengatakan demokrasi sistem kafir dan haram. Sehingga berkonsekuensi kufur bila masuk ke dalamnya. Islam tidak akan tegak melalui demokrasi. Banyak batasan syariat dilanggar ketika masuk ke dalam sistem.

Sementara pihak yang berjuang di luar sistem – dalam hal ini kita batasi kelompok yang meyakini dakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad sebagai jalannya – terkadang sulit memberikan jawaban langkah kongkrit yang akan dilakukan.

Untuk konteks Indonesia, langkah yang terlihat baru sekedar gerakan-gerakan dakwah dan sosial, lalu sesekali melakukan aksi nahi munkar dengan people power. Hal ini bagi sebagian orang melahirkan kesimpulan bahwa mereka yang berjuang di luar system, absen dari perjuangan politik dan belum melakukan hal yang berarti.

Kita mengakui dan sadar ada banyak variabel yang membedakan antara kultur geopolitik dan demografis antara Afghanistan dan Indonesia. Variabel-variabel yang mempengaruhi perjalanan Taliban barangkali juga berbeda dengan gerakan-gerakan Islam anti demokrasi di Indonesia. Namun, yang kita ambil sebagai teladan dan pelajaran adalah pola umum dari langkah-langkah Taliban. Ini bisa ditiru dan dilakukan oleh gerakan Islam anti demokrasi di berbagai tempat, termasuk Indonesia.

Inspirasi aliran jihadi juga tidak bisa dipisahkan dari partner setia Taliban di Afghanistan, yaitu Al Qaeda yang berpusat di sana. Rilis-rilis resmi dari Al Qaeda dan publikasi-publikasi tulisan anasirnya seperti Abu Mus’ab Assuri secara spesifik menjelaskan, strategi aliran jihadi adalah melakukan perlawanan di luar sistem dengan jihad bersenjata sebagai ujung tombaknya setelah mendapatkan momentum perlawanan bersenjata yang logis dan dapat dipahami oleh masyarakat luas. Sebelum momentum itu datang, aliran jihadi memfokuskan aktifitasnya pada da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar,  memahamkan masyarakat dan mengambil hati mereka untuk memahami Islam secara utuh.

Itu semua tidak lepas dari da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan Taliban di tengah masyarakat. Aliran jihadi di Indonesia hari ini harusnya fokus dalam tahap ini. Sebagaimana dilakukan Taliban dan sesuai arahan tokoh aliran jihadi internasional DR. Aiman Azh Zhawahiri. Tanpa harus terombang-ambing oleh hingar-bingar politik praktis yang menyita perhatian dan waktu sebelum datang momentum untuk memulai mengerahkan kekuatan bersenjata.

Asumsi jika ummat Islam dari kalangan aliran jihadi absen dari pemilu kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin zhalim dan kafir karena suara ummat Islam kalah, seharusnya dijadikan penyemangat menyiapkan kekuatan bagi aliran jihadi. Karena boleh jadi, momentum perlawanan akan muncul akibat kezhaliman yang merajalela dari pemimpin zhalim atau kafir, bukan sebaliknya. Akhirnya aliran jihadi harus sadar bahwa dengan menjalani startegi perjuangannya hari ini, mereka sedang berpolitik dan melangkah menjadi entitas politik dengan izzah Islam. Bukan justru dengan cara yang beresiko melanggar batasan Islam melalui sistem di luar Islam tanpa izzah.

 Wallahua’lam

Sumber: sahabat-mpi.com

Ini Catatan Beliau(Bang Aad) tentang Demokrasi

DAN RAKYAT PUN BERKELAKAR

11 April 2014 pukul 20:56

Tadi siang saya bertemu dengan rekan-rekan super serius, para profesor dan pemikir. Saya terlambat bergabung dengan mereka karena bus dari Tangerang berangkat terlambat. Tapi ada yang berbeda siang ini, ternyata mereka sedang banyak tertawa. Banyak anekdot yang keluar saling bersahutan, tentunya disambut dengan terbahak-bahak. Yang lebih menarik, lelucon-lelucon itu justru lahir dari data dan informasi akurat. Oooo… ternyata mereka sedang membahas hasil pemilu dua hari lalu. Pemilu yang hasilnya memang patut untuk membuat kita terpingkal pingkal…

 

Parliamentary Threshold telah dinaikkan menjadi 3,5 % agar partai yang masuk parlemen semakin berkurang. Tapi pemilu ini justru mengantarkan semakin banyak partai masuk Senayan. Rakyat memang nakal membagikan suaranya hahaha….”. Lalu tawapun berderai kesekian kalinya

 

Terus terang, rakyat kali ini sungguh nakal. Dari 12 partai nasional, 10 mereka loloskan masuk Senayan. Padahal tahun 2009 cuma sembilan. Niat perampingan menjadi gagal total. Bayangkan, menjadi betapa sulitnya koalisi akan dibuat, keputusan diambil dan lobby dilakukan dengan jumlah partai sebanyak ini, dengan jumlah kursi yang nyaris dibagi rata. Mungkin nanti bukan dagang sapi lagi namanya, tapi Politik Dagang Nuklir : alot setengah mati. Tapi inilah demokrasi, sebuah sistem di mana kita sedang berjudi dengan maunya rakyat, rakyat yang akhirnya ingin menjadi subyek tapi sekaligus subyek yang tak tahu apa yang ia sebenarnya maui. Parodi apa lagi yang lebih kocak daripada kenyataan ini ? hihihi…

 

Lalu saya melamun membayangkan perangai rakyat di bilik suara… Ada yang mencoblos dengan kakinya…. Ada yang mencoblos dengan membelakangi kartu suara… Ada yang mencoblos dengan melemparkan alat pencoblos dari jarak jauh… Maka jangan heran jika suara tidak sah tahun ini mencapai 24 % (Kompas), terbesar dalam sejarah, tiga kali lipat dari lima tahun lalu. Tampaknya trend tahun ini bukan golput, tapi memilih secara tidak sah. Ah, saya rasa rakyat lebih cerdas daripada saya yang golput. Jika saya menolak demokrasi, maka rakyat memilih untuk mempermainkan demokrasi. Ya…ya… rakyat lebih cerdas daripada saya….hahaha…

 

Demokrasi memang asyik untuk dipermainkan, itu yang saya lupa, mungkin karena saya terlalu serius menjuteki demokrasi. Demokrasi memang memiliki cacat akademis yang fatal, makanya ia mudah dipermainkan. Demokrasi tak memiliki definisi yang limitatif, sehingga bahkan rejim paling otoriter pun bisa menamakan dirinya demokrat. Lihatlah Korea Utara yang menamakan dirinya Republik Demokratik Korea, atau mantan Jerman Timur yang menamakan dirinya Republik Demokratik Jerman. Maka, jangan takut menyandingkan sebuah kata dengan demokrasi, walau bertentangan dengan makna demokrasi. Misalnya : Demokrasi totaliter !!! wkwkwkwkwk…

 

(Saya menyarankan Pep Guardiola menggunakan nama ini untuk gaya bermain Bayern Muenchen hahaha…)

 

Tiba-tiba lamunan saya dikejutkan oleh seorang Redaktur Senior sebuah harian :

 

Bang, ini saatnya Rhoma Irama untuk menjadi presiden. Kalau seorang presiden dituntut untuk memiliki rekam jejak, maka hanya Bang Haji Rhoma Irama dari seluruh kandidat presiden yang memiliki JEJAK REKAMAN yang sangat panjang…” qiqiqiqiqi…..

 

GOLPUT… TIDAK… GOLPUT… TIDAK… GOLPUT… (Part III – Habis)

8 April 2014 pukul 22:04

Beberapa jam lalu saya sempat berpikir untuk ke bilik suara, tapi hanya untuk memilih anggota DPD. Ya, memilih senator yang akan mewakili daerahnya. Karena merekalah yang sepantasnya mewakili komunitasnya, bukan para politisi. Bangsa ini harus dipahamkan bahwa seharusnya mereka diwakili secara teritorial, oleh seorang bijak-cendekia yang hidup bersama mereka, bekerja untuk mereka, dan rakyatpun mengenalnya. Perwakilan bukan haknya para politisi. Apa hak seorang anggota partai politik meminta suara untuk mewakili rakyat ? Atas alasan ideologis ? Sudahlah, bangsa dan ummat ini pecah karena ideologi.

 

Sayapun serius mematut-matut para calon anggota DPD, satu demi satu, bahkan bukan cuma yang akan mewakili daerah saya, lalu sayapun segera patah selera. Ternyata mereka hanyalah para politisi berbulu daerah. Ah, betapa rakus dan serakahnya para politisi ini. Tak cukup bagi mereka medan legislasi untuk meluapkan nafsu memikul “amanah”, bahkan lahan perwakilan daerahpun direbutnya pula. Saya sempat bertanya pada tetangga, apakah mereka mengenal nama-nama itu. Dan herannya, tak satupun yang mengenalnya. Jangan-jangan sang calon anggota DPD itu tak tinggal dikampungnya.

 

Ah sudahlah, toh mubazir juga jika mereka melenggang ke gedung MPR. Toh MPR hanyalah lembaga macan kertas. Empat kali amandemen terhadap UUD 45 telah membuat MPR hanya memiliki fungsi amandemen terhadap konstitusi, tak lebih. Lagipula, sebagian besar anggota MPR adalah anggota DPR. Sedangkan anggota DPD hanyalah menjadi pemantas dan penghias demokrasi. Demokrasi di Indonesia memang berseberangan dengan konsep khilafah : Jika khilafah berbasis teritori, maka demokrasi Indonesia berbasis ideologi. DPR menjadi demokrator, DPD menjadi dekorator.

 

Entahlah… negeri ini seperti tak mengijinkan saya untuk ke bilik suara, untuk bernegara secara patut, untuk masa depan berbangsa yang lebih baik. Bilik suara tak lagi menjadi bilik aspirasi, tapi hanya menjadi bilik frekuensi. Seratus cendekia yang memilih seorang negarawan, tak akan berarti dibandingkan seribu orang memilih bajingan. Terlalu banyak hajat-hajat teramat penting yang diserahkan kepada para politisi, para penjilat yang hanya pandai memenuhi selera dan keinginan. Padahal bangsa ini butuh manusia tulus yang pandai memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan.

 

Besok adalah pemilu dimana bangsa ini untuk kesekian kalinya akan mengkhianati falsafah negaranya. Kerakyatan lagi-lagi tak akan dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, tapi oleh popularitas kepentingan. Jika artis lebih populer untuk mendulang suara, maka seorang hakim nan bijak tak akan terpampang wajahnya di kertas suara. Jika nyekar kekuburan seorang diktator lebih electable daripada mempresentasikan sebuah mimpi peradaban, maka seorang caleg akan memilih membakar kemenyan daripada menyusun proposal masa depan.

 

Maka malam ini saya mantap untuk golput dengan hati tenteram. Tak ada lagi cemas tentang undang-undang yang akan disusun para durjana. Karena para durjana politisi akan siap memakai kopiah syariah demi melanggengkan sebuah kursi, sebagaimana ustadz politisi juga siap  makan daging babi jika itu menjadi syarat masuk istana. Tentang dalil, itu gampang disiasati. Sama sekali tak ada yang perlu dikhawatirkan jika Senayan sepenuhnya diisi preman, karena masuknya preman ke Senayan sama dengan masuknya mur ke dalam bautnya, seharmonis masuknya iblis ke neraka. Tentang kemudharatan yang akan menimpa ummat ? Ah sudahlah… Rasulullah SAW telah titipkan ummat ini kepada AlQur’an dan AsSunnah. Sejauh mereka berpegang pada keduanya, mudharat tak berani menyentuh mereka.

 

Bismillah…

 

KETIKA PESTA USAI

9 April 2014 pukul 23:07

Pesta rakyat itu usai sudah. Quick Count dari berbagai lembaga survey telah berebut muncul. Suara tampak terdistribusi cukup merata. Rakyat rupanya tak lagi melihat perbedaan antara satu partai dengan partai lainnya, sehingga merekapun membagi diri cukup rata. Mirip seperti sebuah pasar yang punya 15 toko dengan dagangan sama, mutu sama, harga sama dan layanan sama. Sehingga pembelipun tak terlalu peduli dengan nama toko. Saya tak tahu persentase yang diraih faksi Golput. Bahwa mereka lagi-lagi menjadi pemenang, itu pasti. Tapi apakah mereka menjadi lebih besar daripada lima tahun silam, entahlah.

 

Suara ternyata bergerak sangat liar dan unpredictable. Para petinggi partai nyaris aklamasi mencemooh akurasi survey-survey sebelumnya. Tampaknya swing voters memilih partai dengan cara menghitung kancing. Pengaruh Jokowi ternyata tak cukup signifikan bagi kursi PDI-P, sedangkan karisma Rhoma Irama tampaknya membantu PKB untuk naik dua kali lipat. Pemilu kali ini rupanya cukup jujur bercerita tentang watak demokrasi ala Indonesia, bahwa rakyat diminta untuk berjalan tanpa tahu arah tujuan : tak jelas, tak pasti, impulsif dan penuh kejutan.

 

Suara yang diraih tiap partai meniscayakan koalisi, karena tak satupun yang mampu meraih 20 %. Mulai besok, marilah siapkan pisang goreng dan secangkir teh panas, karena kita akan menyaksikan tontonan sandiwara, kemunafikan, dan orang-orang yang akan menjilat ludahnya sendiri. Partai A akan bergandengan mesra dengan partai Z yang kemarin ia caci. Partai B akan berkolaborasi dengan Partai Y yang katanya seteru ideologi. Sedangkan Partai C akan berkoalisi dengan Partai X untuk mendukung seorang calon presiden yang terlanjur dituduh berkhianat dengan sumpahnya.

 

Tonton sajalah, tak usah didebat. Toh para politisi akan dengan lihai menjawab protes-protes moral anda, karena jawaban memang telah disiapkan jauh-jauh hari untuk mengantisipasi kemungkinan-lemungkinan terburuk. Sebuah partai yang telah gagal mewujudkan target ranking dan target kursi, toh akan dengan lincah berkelit bahwa mereka sama sekali tidak gagal. Karena seluruh partai sebenarnya sama-sama gagal. Lagipula, kata mereka, mereka telah sukses keluar dari ramalan terburuk tentang nasib partai mereka. Alih-alih introspeksi, mereka malah sibuk membela diri.

 

Bagi yang memilih Golput, jika malam ini anda tersenyum menang, maka anda salah besar. Di pundak anda hari ini tersimpan tanggung jawab raksasa karena dua “kesalahan” yang telah anda lakukan : Pertama, karena anda telah berkontribusi untuk membuat hasil hari ini begitu abu-abu; Kedua, karena apapun hasil hari ini, sikap anda sama sekali tak akan diperhitungkan bagi konstelasi politik praktis yang kelak akan “menghukum” rakyat pemilihnya. Anda hanya punya waktu lima tahun agar rakyat tak lagi mengulangi kebodohan yang sama. Anda hanya punya waktu lima tahun untuk menawarkan alternatif pengganti atas sesuatu yang anda maki-maki, agar rakyat tak mengulangi pesta narkoba yang sama.

 

Kalau anda Golput karena anda kecewa dengan pilihan calon-calon yang ada, maka gantunglah leher anda. Karena andapun tak lebih baik daripada mereka. Namun, kalau anda Golput karena anda ingin keluar dari pengapnya sistem yang tersedia, karena anda optimis bahwa ada begitu banyak alternatif di luar sana, maka jadikanlah kemenangan hari ini sebagai sebuah kekuatan moral untuk bermujahadah. Sungguh bagi yang bermujahadah Allah akan sediakan begitu banyak jalan. Jadikanlah kemenangan ini sebagai ruh bagi sebuah gerakan peradaban, agar kelak terbentuk ummat merdeka yang atas aspirasinya sendiri mendaulatkan kekuasaan Allah.

 

 

Top of Form

GOLPUT… TIDAK… GOLPUT… TIDAK… GOLPUT… (Part II)

8 April 2014 pukul 11:06

Tapi evaluasi keyakinan saya belum selesai. Seorang teman mengingatkan : “Bagaimanapun parlemen adalah medan peperangan modern. Saat ini, di sanalah pertempuran itu sejatinya terjadi. Jangan tinggalkan mereka berperang sendirian. Jangan biarkan mereka dihabisi musuh. Mungkin banyak yang kita kecewa terhadap mereka. Tapi mereka sedang berperang

 

Saya termenung sejenak, mungkin nasihatnya benar. Bukankah saya sendiri yang sering bilang bahwa politik praktis adalah “game of war without blood”, bahwa politik praktis adalah perang modern tanpa darah ? Bukankah untuk peperangan ini kita sejenak harus melupakan perbedaan dan mengubur pertentangan ?

 

Baiklah. Tapi wahai para warlord… wahai para politisi… yakinkan saya bahwa kalian sedang berperang. Perang adalah konfrontasi. Lalu, di mana posisi kalian, dan siapa musuh kalian ? Tunjukkan mana furqan itu : bahwa putih sedang melawan hitam. Mana seragam dan panji-panji tempur kalian ? Sungguh, saya tak melihat itu. Saya tak melihat putih melawan hitam, yang ada abu-abu belaka. Bahkan saya sering melihat kalian bertukar seragam. Sekarang kalian melawan pasukan A, tapi besok kalian berkolaborasi dengannya. Kemarin kalian beroposisi dengan partai Z, namun lusa berkoalisi mesra dengan mereka… Ini siasat kata kalian ?

 

Mungkin ini memang peperangan, tapi hanya peperangan kepentingan, bukan peperangan ideologis dan fundamental. Maka PDI-P adalah Sukarnois, Sosialis, Kapitalis, Islamis dan Sekularis sekaligus, tergantung kepentingan. Begitu pula Nasdem, Gerindra, PKS, Demokrat, Hanura, Golkar, PKB, PPP, PBB, PKPI atau PAN. Golkar yang mengusung Kapitalisme suatu saat akan berperang dengan Demokrat yang sedang mengangkat panji Sosialisme. Tapi saat keduanya sama-sama mengibarkan bendera Islamisme, maka keduanya akan berkoalisi.

 

Sejarah politik modern mencatat bahwa parlemen di manapun tak pernah menjadi medan perang keyakinan. Maka Parlemen Perancis yang 100 % sekuler tak pernah 100 % anti Islam. Saat Ultra Kanan menduduki kursi, jangan pernah berpikir akan keluar undang-undang yang sepenuhnya anti Kiri. Bahkan di Parlemen Israel, Knesset, sekalipun, jangan pernah berpikir bahwa kepentingan Jalur Gasa dan Tepi Barat akan sepenuhnya diabaikan. Belajarlah kepada AKP, partai berkuasa di Turki. Mereka sukses karena sangat paham makna politik praktis : sebuah seni bermain kepentingan.

 

Itulah yang menyebabkan kenapa sebuah kemenangan politik tak menjamin sebuah kemenangan sosial apapun. Ummat Islam Indonesia mengalami kemenangan politik saat UU Sisdiknas No. 20/2003 mewajibkan sekolah mengajarkan agama sesuai dengan agama muridnya. Tapi yang memetik untungnya justru sekolah non-Muslim yang sejak saat itu memasang spanduk : “Sekolah kami menyediakan guru agama yang sesuai dengan agama yang dianut murid”. Maka sejumlah orangtua Muslimpun kini tanpa cemas menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah tersebut.

 

Ah, seandainya kekuasaan dalam konstelasi politik modern adalah perang keyakinan belaka, tentulah telah hancur ummat ini sejak runtuhnya Khilafah Ustmaniyah tahun 1924. Masalahnya, pengawal ummat Muslim ini bukanlah kekuasaan, tapi aqidahnya. Itulah yang terjadi berabad-abad, seperti saat militer Hulagu Khan menaklukkan Khilafah Timur. Lalu dakwah mengalahkan Hulagu Khan

 

Apa boleh buat, sampai di sini saya masih memilih untuk golput…

 

MARS PKS DALAM PERSPEKTIF PERILAKU KONSUMEN

19 Februari 2014 pukul 1:12

Seseorang telah berbaik hati mengirimkan saya sebuah video tentang Mars PKS yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Gereja Spiritus Santos, Nusa Tenggara Timur. Beliau meminta pandangan saya. Dan lagi-lagi ini adalah sebuah permintaan yang sangat dilematis. Saya sangat sadar, seobyektif apapun pandangan saya buat, resiko digampar kiri-kanan akan menjadi sebuah konsekuensi.

 

Tapi, okelah. Saya akan mencoba mengulasnya seteoritis mungkin, seakademis mungkin, seilmiah mungkin. Dan saya ingin memulainya dengan sebuah pertanyaan : Apa efek peristiwa ini terhadap elektabilitas PKS ?

 

Untuk itu, saya mencoba mendekati fenomena ini dari sisi persepsi dan perilaku pasar, karena kebetulan skripsi saya dulu tentang “Consumer Behavior“, dan saat ini menjadi konsultan untuk dua merek otomotif. Pendekatan perilaku pasar ini saya gunakan mengingat ada “konsumen” baru yang ingin dikejar PKS, namun ada konsumen lama yang lumayan terganggu loyalitasnya terhadap peristiwa ini. Pendekatan ini saya gunakan, karena di satu sisi PKS mencari “konsumen” baru, dan di sisi lain mempertanyakan komitmen pelanggan lama.

 

Politik praktis, dalam bahasa perilaku konsumen, masuk dalam kategori High Involvement Product : Produk yang dibeli dengan pertimbangan tinggi, sangat melibatkan ikatan rasio, emosi dan sentimen, sangat berkorelasi dengan market segmentation and positioning. Ini adalah produk yang akan diteliti dengan sangat cerewet sebelum diputuskan untuk dibeli atau tidak. Karena politik praktis dengan segala identitas dan produk dagangannya adalah sesuatu yang sangat ideologis, sangat strategis, dan… ya… sangat politis…

 

Memang, ada yang berlogika bahwa tak ada yang salah dengan Mars PKS yang dinyanyikan oleh koor Gereja. Ibarat sebuah toko kelontong, mustahil rasanya jika ada pembeli “non-Member” membeli dagangannya, lalu ditolak. Namun, jika kita kembali kepada realitas High Involvement product, baik melalui pendekatan Marketing Mix alias 4P maupun pendekatan STP dari Phillip Kottler, logika toko kelontong tidak pas bagi sepak terjang Partai Politik manapun. Logika toko kelontong hanya cocok bagi Low Involvement Products, seperti beras, sabun cuci, obat flu, sendal jepit dsb.

 

Pada High Involvement Product seperti parpol, ada yang namanya Brand Image, Psychological Aura, Brand Loyalty dsb. Sehingga, parpol sejatinya tidak lagi bicara tentangConsumer (konsumen), tapi tentang Customer (pelanggan). Maka, dalam perspektifConsumer Behavior, PKS saat ini asyik mengejar “The New Consumers“, dan bersamaan dengan itu justru melupakan “The Old Customers“. Ini jelas fatal !!! Ia mengingkari Brand Image, Psychological Aura, dan Brand Loyaltynya sendiri.

 

Memang, ini adalah sebuah pilihan. Tapi mari kita belajar dari Toyota. Ketika ia memproduksi sedan Toyota Vios, ia menargetkan pelanggan kelas menegah bawah, sekelas pengguna Toyota Avanza atau Soluna. Tapi, ia juga menawarkan mobil tersebut kepada pengusaha taksi, atau pengusaha taksi ingin membeli Toyota Vios. Lalu, armada taksipun ramai-ramai menggunakan Vios. Apa yang kemudian terjadi ? Pengguna mobil pribadi kelas menengah bawahpun enggan membeli dan menggunakan mobil tersebut. Bagaimanapun, mobil adalah High Involvement Product. Ini soal harga diri, Bung…

 

POLITIK PRAKTIS : KISAH MENJINAKKAN KAUM HAUS DARAH DAN KUASA

15 Februari 2014 pukul 20:39

Suatu ketika, orang mulai muak dengan perang, dan itu terjadi pada tahun 1700-an. Betapa tidak muak, hanya untuk berebut wilayah yang tak seberapa,  ada sekian ratus nyawa yang harus melayang. Okelah jika korban hanya di pihak militer. Tapi kenyataannya , ada sekian ratus istri yang menjanda dan ribuan anak yang kehilangan ayah. Belum lagi hancurnya sendi ekonomi, kerusakan lingkungan, kampung yang dibumihanguskan. Ah… perang memang memuakkan.

 

Mungkin perang masih dapat dimaafkan,  jika hanya sekali untuk sekian puluh tahun. Faktanya, perang adalah sesuatu yang mudah untuk dimulai namun sulit untuk diakhiri. Masalahnya, perang selalu menyisakan dendam, dan dendam hanya bisa dihapus oleh perang berikutnya, dan seterusnya. Perang ternyata tak hanya untuk merebut kekuasaan, tapi juga untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan. Kesimpulannya : sekali perang tetap perang !

 

Maka, dicarilah akal. Tak bisa tidak, kaum haus darah kuasa ini harus dijinakkan. Ongkos material dan sosial yang harus keluar untuk mengenyangkan syahwat mereka terlalu mahal. Dibutuhkan semacam sublimasi dan kanalisasi agar syahwat ini tersalur tanpa harus berperang. Semacam kanalisasi terhadap pengidap balapan jalanan lewat mesin simulator balapan. Ya, semacam sebuah ijtihad politik untuk merancang GAME OF WAR WITHOUT BLOOD : Permainan perang tanpa darah !!!

 

Maka, lahirlah Politik Praktis. Ini bukan politik seperti definisi dalam buku-buku teks akademis. Ini bukan politik seperti yang dimaksud Plato, AlMawardi atau Ibnu Taimiyah. Ini bukan cerita tentang para negarawan, atau tentang ikhtiar bersama untuk mensejahterakan sebuah negara bangsa. Sekali lagi, ini tentang Politik Praktis : melulu tentang perebutan, pemeliharaan dan pengembangan kekuasaan, namun dilakukan di dalam ruangan dan di atas meja. Padang Kurusetranya bernama Parlemen, sedangkan pasukan tempurnya bernama Partai Politik.

 

Tentunya ini cerita yang sama sekali berbeda. Politik (Tinggi) bicara tentang ketatanegaraan, haluan negara, pembangunan jangka panjang, masterplan atau strategic planning. Sedangkan Politik Praktis sepenuhnya bicara tentang siasat : tentang taktik, tipu-daya, pertempuran, pertarungan, lobby, kepentingan, kawan-lawan, kalah-menang, atau persaingan. Ya, perangainya sepenuhnya bak perang, dan Rasulullah SAW bersabda : “Perang itu tipu daya” (AlHadits). Jika pemain Politik (Tinggi) disebut Negarawan, maka pemanin Politik Praktis ini disebut Politisi.

 

Namun, sampai di sini bahaya masih mengintai. Politisi tak boleh memiliki kekuasaan di satu tangan, karena kekuasaan itu koruptif. Belajar dari Athena, maka kekuasaan mereka harus dilunakkan.Harus dikatakan kepada mereka bahwa kekuasaan itu ada di tangan rakyat (demokrasi), bukan lagi di tangan penguasa. Dan atas nama rakyat, kekuasaan negara harus dipecah tiga : Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Lalu, kekuasaan terbesar para politisi ada di Legislatif, sesudah itu di eksekutif, dan yang terkecil ada di Yudikatif.

 

Akhirnya, sebuah permainan telah dimulai : Politik Praktis. Pemainnya disebut politisi. Darah mereka adalah darah perang dan kekuasaan. Menumpahkan darah dipantangkan bagi mereka. Dan sebagai gantinya mereka harus bermain dengan siasat dan tipu daya. Mirip dengan kisah Tambo Minangkabau : “Tak perlulah kita berperang, lebih baik kita adu kerbau. Jika kerbau kalian menang, kalian boleh kuasai kami”. Tak pelak lagi, ini adalah peperangan yang lebih beradab. Namun tetap saja ada hal yang tak mungkin hilang : kekuasaan dan tipu daya.

 

Pertanyaannya : patutkah kita serahkan nasib kita dan negara kepada mereka semata ??? Patutkah kita serahkan nasib negarawan semacam Tri Rismaharini ke tangan mereka ???

 

SUNGGUH, KEBENARAN ITU BIJAKSANA…

11 Februari 2014 pukul 23:07

Duh, lagi-lagi Suriah mengusik rasa. Ingin rasanya menutup mata dan telinga tentang tragedi memilukan yang terjadi di sana, tapi nggak bisa, bahkan terlarang. Ya, selama saya masih Muslim, selama saya masih membaca sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa yang tak peduli dengan urusan ummatku, dia bukanlah golongan ummatku

 

Dan ceritanya masih saja sama : faksi pejuang Muslim bertempur dengan faksi pejuang Muslim lainnya, yang sama-sama hadir di sana untuk tujuan serupa, yaitu menumbangkan rejim Bashar Al-Assad. Rupanya kesamaan niat dan tujuan ternyata tak menghalangi dua kelompok untuk saling serang, ketika kedua kelompok tersebut masih saja meributkan hal-hal teknis dan menganggapnya sebagai prinsip : apakah tujuan harus dicapai lewat Utara atau Selatan…

 

Sebenarnya, perbedaan, bahkan pertentangan, bukanlah hal yang asing dalam tubuh ummat ini. Dan para pendahulu kita telah mencontohkan bagaimana mengelolanya. Tapi inilah rumitnya : mereka saling pegang senjata. Di satu sisi, senjata adalah kekuatan. Tapi di sisi lain senjata adalah fitnah. Senjata di tangan akan membuat perselisihan cenderung diselesaikan dengan peluru. Maka, sebenarnya Islam telah berkata : Senjata adalah hak dari pemegang otoritas yang legitimatif, bukan hak dari pemegang kebenaran. Apalagi mereka yang hanya merasa benar.

 

Bahkan, para shahabat telah mencontohkan bagaimana caranya mengakhiri perang antar sesama.Ya, bagi saya perang Shiffin dan perang Jamal adalah warisan para shahabat tentang bagaimana mengakhiri perang. Mereka berperang karena cinta, bukan dendam, sehingga Sayyidina Ali ra selalu saja menangis setiap “lawannya” terbunuh. Itu yang membuat mereka saling segera ingin mengakhiri perang. Dan ketika Hasan bin Ali ra menganggap menyerahkan hak adalah cara paling cepat untuk mengakhiri perang, maka itupun ia lakukan.

 

Maka, wahai para pejuang Islam, berhentilah untuk merasa benar. Karena kebenaran hakiki  itu milik Allah, dan tak pernah menjadi milik kelompok. Sedangkan untuk kepentingan hamba-hambaNya, Allah telah menggantinya dengan kebenaran operasional. Itulah yang disebut dengan Al-Khair… itulah yang disebut dengan maslahat : yaitu ketika manfaat lebih besar daripada mudharatnya. Sekali lagi, wahai para pejuang Islam, berhentilah untuk merasa benar. Cobalah belajar untuk menakar realitas ini secara lebih terukur : halal… atau haram…

 

Duhai indahnya… ketika kita menakar realitas dalam takaran halal dan haram, tentulah tak akan ada lagi fanatisme. Karena pada halal tetap ada mudharat dan pada haram tetap ada manfaat.. Ketika kita mengukur hidup dalam halal dan haram, betapa kita akan rendah hati bahwa itu “hanyalah” wilayah ijtihad : bisa benar, bisa salah, bisa berubah. Wahai para pejuang Islam, bukalah mata kalian. Karena berperang dalam kebutaan hanya akan menjerumuskan kalian kepada kebinasaan.

 

Mungkin kita bisa menawarkan sebuah kisah ala Nusantara ke bumi Suriah, ketika kita dulu ingin menjatuhkan rejim Orde Baru dari singgasana tuanya. Ada begitu banyak kelompok, ada begitu banyak faksi, ada begitu banyak ideologi. Bukan tak ada friksi, bahkan pertentangan itu begitu tajamnya. Betapa di Senayan dan di jalanan sesama kaum reformis saling memprovokasi setiap hari. Terkadang, sebuah kelompok reformis lahir bukan untuk menjatuhkan Orde Baru, namun untuk mengimbangi kekuatan kelompok reformis lainnya.

 

Namun, kenapa tak terjadi baku bantai antar sesama ? Pertama, karena tak ada satu kelompokpun yang merasa dirinya adalah satu-satunya golongan yang sah. Kedua, walau berbeda kepentingan namun prioritasnya sama : jatuhnya Orba. Ketiga, masing-masing memilih untuk “bertempur” di medan yang saling berbeda. Keempat, ternyata negeri ini masih dipenuhi oleh orang-orang bijak yang tak ingin rakyat menderita hanya karena pemimpin saling berebut kuasa.

 

Ya, karena kebenaran itu bijaksana…

JUST A GAME OF WAR WITHOUT BLOOD (Gitu aja kok pusing…)

15 Januari 2014 pukul 12:23

5 April 2004, sebuah dagelan bermula di pagi hari

 

09.00

Segelas teh Maleber, setangkep roti bakar dan dua butir telur setengah matang tergeletak di atas meja. Teh diseruput dengan kepala menerawang dan hati senyum-senyum geli,“Mau pilih apa ?”. Bingung, tapi tak ada galau sedikitpun. Di kepala sudah tersimpan empat pilihan, salah-satunya adalah golput. Golput ? Rasanya tak mungkin, karena bagi saya golput adalah milik kaum putus asa dan pesimistik. Tapi kemungkinan itu ada di kepala, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Toh semua pilihan adalah sama baiknya atau sama tololnya.

 

09.10

Saya tampak sama tololnya dengan roti bakar yang yang terkapar bertelekan piring datar. Bagi saya, pemilu hari ini adalah roti bakar yang teroggok pasrah : mau dimakan, dibuang, digigit separuh, dikunyah mulai dari sudut atau tengah, atau ditelan mentah-mentah. Cuma sekerat roti panggang murahan yang gosong di bawahnya karena saya telat membaliknya. Tapi bagi orang lain pemilu adalah roti buaya, sakral !. Dia hanya ada di helat perkawinan, tidur di atas keranjang cantik, dibawa dua tangan di depan dada, lalu kelak diserahkan dalam alun seremoni nan magis.

 

09.20

Telur setengah matang habis terseruput tanpa sisa. Yang tinggal hanyalah saya yang telah berubah sikap terhadap pemilu. Tak seperti tahun 1999 ketika saya mematut-matut bangga jari telunjuk kiri yang terasa berwibawa dengan bekas tinta pemilu di wajahnya. Dulu, betapa pemilu adalah antusiasme, masa depan, asa dan janji perbaikan. Kini, pemilu adalah pesta labur sesaji di laut kidul : ritus ! Lihat, ada sekte Moncong Putih, Beringin Hitam, Dwi Bokong atau Bintang Tiga. Selayaknya ritus, maka di barisan terdepan tampak para pendeta, resi, dan kiyai. Ada gamang, karena di satu sisi saya adalah warga Pantai Kidul, tapi di sisi lain saya masih Muslim.

 

09.30

Semua hidangan telah habis, dan saya menjadi marah. Marah pada banyak keadaan : marah pada pemilu yang telah menjadi ritus, marah pada sumber daya bangsa yang terkuras hanya untuk sebuah sandiwara, marah pada para pemuda yang menjadikan atribut partainya bak berhala. Bah, harapan besar apa yang sebenarnya mau dititipkan pada pemilu ini ?. Siapapun berhak melakukan reideologisasi terhadap makna pemilu : untuk menentukan masa depan bangsa kek, untuk menegakkan syariat Islam kek, atau untuk menggulirkan reformasi kek. Tapi yang pasti pemilu adalah game of democracy. Demokrasi adalah ibu kandungnya yang dari rahimnya ia lahir. Demokrasi adalah roh dan darah dagingnya. Demokrasi, dan bukan ideologi lainnya

 

09.40

Akhirnya kaki ini melangkah ke luar, gontai. Arahnya jelas : ke TPS. Tapi tujuannya sama sekali nggak jelas. Sama sekali tak ada galau. Toh ini semacam jalan-jalan ke mall. Kalau ada barang bagus, ya beli. Kalau nggak ada yang patut untuk dibeli, minimal cuci mata. Kalau toh ada barang bagus tapi nggak kepingin beli, ya sah-sah saja. Paling-paling akan ketemu kaum sok patriotis yang mendamprat,”Harusnya kamu pilih Si Fulan, agar bangsa ini berubah !!!”. Dan kalau itu kejadian, berarti saya dapat lelucon gratis pagi hari.

 

09.45

Di TPS, sebuah pentas Srimulat telah berlangsung. Sedangkan seorang penonton tolol baru saja datang. Bagaimana nggak tolol, dia hanya datang untuk memilih dosa, dan itu saya. Tapi saya tak ingin buru-buru beli tiket lalu nyoblos. Saya lihat-lihat foto kandidat, sambil bertanya-tanya kepada sesama tolol,

 

“Mau milih yang mana Lol ?”

 

Dan ternyata betul, ia sesama tolol !!! Dengar saja jawabannya :

 

“Tadinya saya mau memilih monyet, Lol. Eeeehhh… ternyata monyet semua !!! Bingung saya”.

 

09.50

A-ha ! Sekarang saya mantap : dosa mana yang harus saya pilih. Dengan langkah pasti saya mendaftar, menunggu panggilan, ambil tiket, menuju bilik suara, dan mencoblos. Keluar dari bilik suara dan mencelup jari di kubangan tinta. Betapa ujung telunjuk kiriku sama tololnya dengan sang empunya. Saya menyeret pulang jari telunjuk sambil terpingkal-pingkal.

 

10.00

Bertemu istri di jalan. Kini ia menuju TPS, juga tanpa tujuan. Ia bertanya,

 

“Jadi milih Bang ?”

 

“jadi”, jawabku sambil mempertontonkan jari telunjuk

 

“Milih siapa ?”

 

“Monyet !”

 

Dan iapun berbalik arah : pulang…

 

KETIKA “THAGHUT” ITU UNJUK GIGI…

17 Agustus 2013 pukul 21:50

Astaghfirullah-al’azhiim… bergidik hati ini menyaksikan sepak terjang prajurit-prajurit militer Mesir menumpas demonstrasi damai di jalan-jalan : Seorang lelaki tambun yang sedang menolong korban luka malah ditembaki; Seorang kurus yang terkapar tak berdaya di jalan bahkan diinjak; Masjid diserang hanya untuk alasan memburu pengunjuk rasa.

 

Dari planet manakah mereka ? Sulit bagi saya untuk tak bercuriga terhadap tetangga Israel meraka. Bukankah Mossad telah lama menyelusup ke dalam tubuh militer Mesir, seperti yang diakui oleh Mossad sendiri ? Sungguh, saya tak percaya bahwa para prajurit itu adalah anak kandung rakyat Mesir. Ya, seakan ayah, ibu, saudara, kerabat dan tetangga mereka bukanlah rakyat Mesir. Atau, para prajurit militer itu adalah keturunan Eli Cohen belaka ?

 

(Eli Cohen adalah agen Mossad yang nyaris menjadi Menteri Pertahanan Suriah era Presiden Hafez Al-Assad. Mesir pernah mengalami kasus yang mirip)

 

Jika, sekali lagi, jika, mereka adalah prajurit-prajurit yang lahir dari rahim ibu-ibu muslimah Mesir, lalu ke mana perginya nilai-nilai dakwah Islamiyah dari dada-dada mereka ? Hei… Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, Jama’ah Islamiyah, Takfir wal Hijri… tak pernahkah kalian menyampaikan Islam kepada mereka, atau kepada ibu-ibu mereka, atau kepada kerabat-kerabat mereka ??? Bukankah Allah telah memerintahkan :

 

“Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya dia thaghut. Dan katakanlah kepadanya : “Maukah kamu membersihkan diri ? Dan aku tunjukkan kepada Tuhanmu, maka takutlah kepadaNya…” (Q.S. 79 : 17 – 19)

 

A-ha! Saya jadi ingat sekarang… Kalian memang tak pernah dan bahkan tak mungkin mendakwahi mereka… Ya, bukankah mereka adalah thagut dan musuh yang harus dimusuhi dan dihancurkan, bukan didakwahi ? Dan, bukankah kalian bahkan melarang para aktivis kalian untuk menjadi prajurit militer, karena menjadi prajurit militer dapat membatalkan syahadatain ?

 

Salah satu hal yang dapat membatalkan syahadat adalah dengan menjadi prajurit militer. Karena militer adalah organisasi yang bertugas untuk mengawal dan melindungi sistem dan hukum thaghut” (DR. Anwar Al-Jundi, dalam kitab “Annawaaqidusy Shahadatain”)

 

Lalu, kini, para prajurit “thagut” itu unjuk gigi menyerang kalian, tanpa nurani, tanpa belas kasihan, tanpa ada nilai Islam di dada-dada mereka. Besar kemungkinan Zionisme-lah yang menjdi “agama” mereka. Ah… sebenarnya kalian hanya sedang menuai akibat dari sangka kalian terhadap mereka. Ketika kalian menyangka mereka thaghut, maka merekapun menjadi thaghut bagi kalian. Jangan lupa, banyak fakta yang lahir karena sangka. Bahkan Allahpun berfirman :

 

Aku bagaikan sangka hambaKu kepadaKu” (Hadits Qudsi)

 

Dan, inilah konsekuensi jika sebuah gerakan dakwah telah menjadi gerakan kekuasaan : Dia akan berhadap-hadapan dengan kekuasaan lainnya, diantaranya dengan pihak militer. Hei, saya harus menghardik kalian, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, Jami’at Islami, Negara Islam Indonesia, AlQai’dah : Sejak kapan dakwah Islamiyah diposisikan berhadap-hadapan dengan manusia ??? Bukankah seharusnya dakwah itu hadir di samping manusia, merangkulnya, lalu menuntunnya ke ridha Allah ???

 

Tapi, segalanya sekali lagi tergantung pada sangka kalian. Toh jika kalian tetap ingin merawat buruk sangka, segala peristiwa belakangan ini juga bisa semakin mengokohkan segala sangka tersebut :

 

“Nah, benar kan… Militer thaghut memang harus diperangi, bukan didakwahi… Jadi, buanglah dakwah dan angkatlah senjata !!!”

 

INILAH POLITIK DAKWAH ITU

20 Mei 2013 pukul 21:51

Pemuda itu menjumpai Rasulullah SAW. Hatinya mantap untuk segera tersungkur memeluk Islam. Tapi di kepalanya masih tersimpan sebuah syarat yang sungguh kurang ajar.

 

“Wahai Rasulullah, aku ingin masuk Islam. Tapi ijinkan aku tetap berzina”.

 

Seperti biasa, beliau tak marah. Beliau tersenyum, dan beliau syahadatkan orang itu. Rasulullah hanya tinggalkan sebuah pesan,

 

“Tapi kamu jangan berdusta”.

 

Sebuah pinta yang kemudian disanggupi dan ditepati.

 

Siapa nyana jika belakangan pesan itu adalah siasat penyembuhan bagi seorang lelaki yang kadung terjebak dalam lingkaran nafsu, namun di relung hatinya yang lain masih ada rasa malu. Siapa nyana jika ternyata pesan itu adalah jurus maut ketika dalam diri masih terpadu antara nafsu dan malu. Lalu Rasulullah-pun memainkan jurus itu setapak demi selangkah,

 

“Apa kabarmu, wahai lelaki ?”, sapa Rasulullah di satu hari

 

“Alhamdulillah ya Rasulullah”.

 

“Apakah kamu masih berzina hari ini ?”.

 

“Masih… ya Rasulullah…”, sebuah jawaban jujur sambil merah padam menanggung malu

 

Betapa pertanyaan ini begitu semakin menekan dan mematikan dari hari ke hari. Betapa bagi hati yang masih punya kejujuran dan rasa malu menghentikan zina masih lebih mudah tinimbang menjawab pertanyaan macam itu.

Terjawab tuntas pertanyaan yang sempat menggayut di kepala,

 

“Kenapa Rasulullah membiarkan lelaki binal itu terus berzina ?”

 

“Apa hubungannya antara zina dan larangan berdusta ?”

 

Inilah politik dakwah ! Sebuah siasat untuk tidak mebidik kebathilan tepat di kepala. Karena, bukankah gelitikan di telapak kaki juga dapat membuat lawan mati kejang ?. Cerita di atas adalah sebuah kisah tentang politik, bukan sebuah sejarah tentang kompromi, karena Islam tak pernah berkompromi !. Maka dalam perspektif yang sama sebuah keyakinan moral utuk “ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah”, secara operasional sah-sah saja untuk diperlakukan terbalik sebagai “Beribadah kepada Allah dan menjauhi Thaghut”.

 

Berkat penghayatan terhadap politik dakwah ini, maka para ulama Minangkabau abad 19 secara gemilang berhasil mendentangkan lonceng kematian atas hukum adat tentang pembagian warisan lewat Perjanjian Bukit Siguntang. Menariknya, perjanjian ini  tak sedikitpun mengusik hukum adat. Perjanjian ini hanya menyepakati klausul bahwa “Harta pusaka dibagi menurut Hukum Adat, sedangkan harta pencaharian dibagi menurut Hukum Faraidh”. Sebuah klausul sederhana yang kemudian hari membuahkan hasil mencengangkan : Pertama, Hukum Islam tak perlu bertempur dengan Hukum Adat; Kedua, implementasi Hukum Adat menyusut drastis seiring makin menyusutnya harta pusaka, sedangkan Hukum Faraidh makin eksis seiring makin terakumulasinya harta pencaharian ! Ini politik dakwah bung !

 

Nah, ikhwati…

 

Politik dakwah ada dalam tubuh dakwah itu sendiri. Ngapain jauh-jauh antum cari di partai politik ? Ia bersemayam di Masjid, bukan di Senayan. Bukankah cahaya dan hidayah itu ada di “Rumah-rumah yang diijinkan Allah untuk ditinggikan dan disebut-sebut namaNya di dalamnya” ?

 

Ada satu hal yang sangat diametral membedakan antara politik dakwah dengan politik kepartaian (termasuk partai Islam). Hakekat politik kepartaian adalah semisal seorang striker yang akan mengeksekusi tendangan pinalti. Tugas utamanya, dan yang paling esensial, adalah mengecoh kiper lawan. Antum harus mencetak gol. Antum harus membuat gerak tipu agar kiper bergerak ke kiri dan antum menendang bola ke sudut kanan gawang. Sebagai Muslim, silakan mulai dengan Basmalah, dan kalau gol akhiri dengan Hamdalah. Ingin lebih ? Silakan lanjutkan dengan sujud syukur. Hanya itu.

 

Ya… hanya itu ! Jangan pernah berpikir untuk berlaku jujur, semisal memberitahukan kiper tentang arah bola yang akan anda tendang, atau tentang sudut dan kekuatannya. Ini tipu daya Bung ! Nurani, moral, bermartabat ? Bullshit !!! Jangan ngeyel dan neko-neko lah. Sadarkah antum bahwa politik kepartaian adalah “Just a game of war without blood ?”. Satu-satunya istilah yang cukup bermoral dalam permainan ini adalah FAIR PLAY. Fair Play artinya adalah bahwa anda bermain dengan seluruh anggota badan kecuali tangan, boleh tackling asal tidak membahayakan, silakan jebak lawan dengan perangkap off-side, boleh diving asal nggak ketahuan, dan kalau kena kartu kuning atau merah jangan ngamuk dan memukul wasit.

 

Jauh berbeda dengan politik dakwah. Yang satu ini justru baru bisa bekerja selama masih ada nurani, ketulusan dan kejujuran. Maka, ketika seorang lelaki ngeyel lainnya datang kepada Rasulullah untuk masuk Islam sambil meminta “ijin” untuk tetap berzina, beliaupun memainkan sebuah politik dengan berbicara pada nurani sang lelaki,

 

“Kamu punya saudara perempuan, ibu kandung, anak perempuan atau istri ?”

 

“Punya, ya Rasulullah”.

 

“Bagaimana perasaanmu juka saudara perempuan, ibu kandung, anak perempuan, atau istrimu dizinahi oleh laki-laki lain ?”.

 

“Wallahi ya Rasulullah, akan aku bunuh laki-laki itu !!!”.

 

Rasulullah tak serta merta menampik. Ia memilih berpolitik dan berdialog, karena masih ada nurani. Itu pula yang dilakukan Ibrahim terhadap Namrud, Musa terhadap Firaun, Yusuf terhadap saudara-saudaranya, atau Sulaiman terhadap Bilqis : sebuah politik dakwah.

 

Dan betapa dakwah memang butuh siasat (selama masih ada nurani dan kejujuran). Suatu ketika seorang teman (konon ia mantan ketua remaja masjid) menjadi seorang pengedar ganja, dan ia punya “alasan”,

 

“Aku hanya menjual daun ciptaan Allah”.

 

Saya tak menyerangnya. Belajar dari Rasulullah, saya mencoba bersiasat dan berdialog kepada nurani,

 

“Jadi benar menurut kamu menjual ganja itu halal ?”.

 

“Aku hanya menjual daun ciptaan Allah”.

 

“Kalo begitu saya beli tiga amplop”, saya mulai bersiasat

 

“Lho, untuk apa ?”, ia agak terperangah.

 

“Saya akan berikan untuk anak-anakmu”. Sejak saat itu ia terdiam

 

 

Ya, dakwah ini memang butuh sebuah strategi, fiqh dan siasat. Realitas yang terus berkembang dan berubah menghajatkan siasat yang juga perlu terus dirancang. DR. Yusuf AlQaradhawi telah merintisnya lewat Fiqh Mu’azhanah dan Fiqh Aulawiyah. Pada mulanya para aktivis dakwah dan tarbiyah di bumi pertiwi ini bermujahadah untuk mengembangkannya. Namun aura kekuasaan ternyata punya daya tarik yang luar biasa kuat. Lalu pada tahu 1998 berdirilah sebuah partai politik dengan sebuah tema : Politik dan Dakwah.

 

Ikhwati, politik dakwah itu ada di sini, di wilayah dakwah dan tarbiyah, di bumi di mana masih ada nurani, ketulusan dan kejujuran. Menegakkan politik dakwah di dunia politik kepartaian yang sarat tipu daya adalah menegakkan benang basah, sebuah contradictio in terminis : mustahil dengan sendirinya !!! Kembalilah, dakwah menanti kiprah politik antum.

 

DEMOKRASI YANG MEMAKSA

14 April 2014 pukul 23:32

Ceritanya, kursi DPR telah penuh terisi oleh legislator hasil pemilu 2014. Kalau komposisi berdasarkan partai, tentunya kita sudah pada tahu : relatif merata ! Nah, saya mau bercerita tentang komposisi berbasis ideologi. Ternyata 37 % sekuler, 26 % liberal, 8 % syi’ah, 12 persen kejawen, 2 % atheis, sedangkan sisanya islamis. Tentunya sebagian besar (73 %) adalah Muslim. Cuma saya nggak tahu berapa persen yang Mu’min. Itu sepenuhnya urusan Allah.

 

Banyak yang terhenyak membaca komposisi ini. Seorang Muballigh berang di atas mimbar, karena ia telah memperingatkan hal ini jauh-jauh hari. Beberapa Golputers merasa menyesal, karena merasa telah membiarkan hal ini terjadi dan tak berkontribusi untuk mencegahnya. KPU membela diri, karena mereka merasa telah meliris biodata para calon lengkap dengan kecenderungan ideologisnya. Sejumlah LSM pun merasa telah “menelanjangi” rekam jejak para calon melalui sejumlah situs internet.

 

Anehnya, komposisi yang mayoritas mutlak non-religius ini tidak memperlancar sidang-sidang di Senayan, dan tidak mempermudah pengambilan keputusan. Segalanya serba alot dan bertele-tele. Ibarat main Pancho, sangat lama menunggu siapa yang tangannnya lebih dulu terkulai kalah. Maklumlah, peta kekuatan sangat merata. Politik praktis memang tak pernah terlalu dipengaruhi oleh ideologi. Karena “ideologi” sebenarnya dari politik praktis adalah kepentingan.

 

Tentunya ini menjadi gosip hangat di seantero negeri, mulai dari istana hingga pangkalan ojek. Di sebuah pangkalan ojek, tema ini ternyata menjadi sebuah perdebatan seru, tentunya dengan gaya tukang olek. Kebetulan penghuni pangkalan ini cukup beragam : ada mahasiswa yang ngojek untuk mencari tambahan uang saku, beberapa adalah pengangguran bergelar sarjana, sedangkan sebagian besar tak tamat SD. Oh, iya, seorang diantara pengojek adalah orang yang sempat mencari peruntungan sebagai caleg sebuah partai, namun gagal total setelah menguras tabungan sebanyak tiga juta Rupiah.

 

“Elo pade sih, bukannya milih gue aja. Kan elo udah pada kenal gue”, kata pengojek caleg.

 

“Lha, pan kite tau kalo elo pemabok ama doyan maen perempuan. Ngapain kite pilih”, jawab Sapi’i yang nggak lulus SD. “Lha, Si Muhtar yang nyalon DPD aja gue nggak pilih, karena die rentenir kampung kite”

 

“Kalu gue…”, timpal pengojek mahasiswa,”udah berusaha nyari yang terbaik, tapi nggak ada yang gue kenal. Akhirnya gue pilih sesama mahasiswa juga. Kebetulan anaknye kece banget”.

 

“Emang serba salah ye…”, giliran sarjana penganggur ikutan,”kenal salah, nggak kenal salah… Kenape sih bapak-bapak yang pinter-pinter itu kagak milihin aja pemimpin yang baik buat kite ? Mereka kan banyak ilmunye, pengalamannye, informasinye. Kita mah terima aja, selama itu memang yang terbaik buat kite. Motor ini juga gue terima aja dipilihin ama si Udin, karena die emang ahlinye : tukang bengkel. Emangnya gue ngerti mesin apa…”

 

“Betul juga lo Mir…”, rupanya Ahmad tertarik berkomentar,”Kalo dipikir-pikir, kenape kite dipakse milih ye ? Padahal kite awam, nggak ngerti ape-ape soal pulitik, negare, pemimpin, pembangunan. Cara nyoblos aje gue kagak tahu. Katenye demokrasi, tapi kenape kite dipaksa ye ? Emangnya kite-kite pernah ditanya mau milih demokrasi atau kagak, tibe-tibe harus berdemokrasi aja… ?”

 

“Emang ! Diktator amat sih tu demokrasi…”, umpat Madun, sambil ngeloyor pergi bawa penumpang

Sumber: Status Bang Aad di Facebook

 

Status Adriano Rusfi(Bang Aad) tentang Demokrasi

Adriano Rusfi(Bang Aad)

“Sejak pertengahan semester 4 ini, saya sering membaca status Bang Aad. Mungkin karena pandangan beliau sama dengan saya tentang demokrasi. Baru kali ini, pertama kali saya tahu kalau demokrasi itu haram. Bahkan, aku baru tahu kalau ada partai Islam yang besar, dan menjadi andalan para aktivis dakwah, para ustadz, dan kyai yang pro demokrasi. Berikut status-status Bang Aad tentang demokrasi.”

4 April

Seringkali untuk meraih dukungan manusia kita berani berjudi dengan ridha Allah. Padahal betapa mudahnya dukungan manusia itu kita dapatkan ketika ridha Allah telah kita raih.

Percayalah, kita tak akan dijauhi manusia saat kita jujur bersikukuh atas keyakinan, sejauh kita meyakini itu sebagai kebajikan dan hati kita tulus menebar baik sangka ke penjuru alam.

Bukankah Allah telah ingatkan, bahwa yang menjauhkan kita dari manusia adalah sikap keras, hati yang kasar dan jauh dari maaf, bukan persoalan keyakinan.

25 Maret

Sebuah perubahan sosial pada dasarnya tak pernah lahir dari kekuasaan. Karena perubahan bermula dari hati, dan hati tak pernah bisa dikuasai.

Maka, Islam mempercayakan perubahan sosial itu melalui para da’i. Karena da’i tak mengandalkan kekuasaan. Karena da’i mengandalkan ajakan, seruan, rayuan, persuasi, negosiasi dan diplomasi. Karena da’i berbicara kepada hati.

Lalu, ketika para da’i negeri ini berbondong-bondong menghajatkan kekuasaan, maka bersiap-siaplah menerima kenyataan bahwa bangsa ini sedang melangkah ke belakang

21 Maret

Bagi anda yang memilih jalan demokrasi sebagai ikhtiar menuju tampuk kuasa, kenapa anda harus mereweli terpilihnya kaum sekularis, artis, liberal, koruptor, atau atheis sekalipun masuk ke parlemen atau istana ?

Bukankah itu adalah konsekuensi logis dari demokrasi itu sendiri ? Bukankah anda harus siap dengan bola liar pilihan rakyat ? Kenapa tak anda hormati pilihan rakyat ?

Sungguh aneh, anda berdemokrasi tapi anda tak rela mengakui kedaulatan rakyat

16 Maret

Saat Sang Rasul lahir, Allah jadikan kekuatan gajah kalah dengan kelincahan burung, dan keperkasaan bumi dihancurkan oleh utusan dari langit.

Saat abad 20 lahir, Allah tunjukkan bahwa diplomasi lebih ampuh daripada senjata, dan tiba-tiba saja sebuah bangsa yang terusir mampu menguasai dunia lewat pengaruh lobby-lobbynya

Robbi… apakah ini pertanda bahwa pada jaman ini pengaruh dari orang-orang yang berilmu lebih digdaya daripada kekuatan orang-orang yang berkuasa ? Apakah ini rahasianya sehingga Engkau utus seorang Rasul dari kalangan pedagang, bukan dari keturunan raja ?

15 Maret

Mulai besok, para pemburu kuasa secara resmi akan mengais-ngais suara manusia Indonesia, konon demi sebuah pengabdian lima tahun lamanya. Sebuah aksi yang bertabrakan dengan logika pengabdian itu sendiri.

Maka, atas nama aqidah dan akal sehat, mari kita melakukan penolakan atas sistem, bukan atas orang. Dan golput adalah sebuah bentuk penolakan konstruktif dan sistematis bagi perbaikan sistem kebangsaan secara total.

Karena, merubah sistem harus dari luar sistem, tak pernah dari dalam..

15 Maret

Tak sedikitpun saya ragukan bahwa masalah bangsa ini luarbiasa besar dan sangat membutuhkan seorang pemimpin besar dengan visi besar dan kerja besar.

Namun nampaknya negeri ini belum punya seorang pemimpin yang kebesaran hatinya sanggup untuk menyadari bahwa perubahan itu dimulai dari bawah, seorang pemimpin yang memiliki kebesaran jiwa untuk mau berlama-lama menekuni sesuatu yang kecil namun berarti.

Ya, karena bangsa ini kadung percaya bahwa merubah itu hanya dapat dilakukan dengan berkuasa

13 Maret

Keadilan sebuah putusan hukum kasus korupsi jangan dilihat dari perbandingan antara kerugian negara dengan besarnya hukuman yang dijatuhkan, tapi lihatlah dari dampak sebuah perbuatan korupsi

Seorang koruptor anggaran pembangunan sebuah waduk irigasi senilai Rp 1 Milyar, tapi berdampak pada jebolnya tanggul yang menewaskan 10 orang dan merusak 100 HA sawah, harus dihukum lebih berat daripada koruptor anggaran HUT RI senilai Rp 100 Milyar yang berdampak pada gagalnya mengadakan 100 panggung hiburan.

Mari dukung KPK dari teror oknum pro-korupsi

9 Maret

MASIH SEBUAH PERTANYAAN BAGI DEMOKRASI :

Jika seribu akademisi, negarawan, birokrat, filsuf dan agamawan berkumpul, lalu bersepakat : Harga BBM harus dinaikkan !

Tapi seratus lima puluh juta rakyat berkata : Jangan naikkan BBM ! Hidup yang sudah sulit akan bertambah sulit !

Apa putusan yang harus diambil ?

7 Maret

UNTUK PARA PENDUKUNG DEMOKRASI :

Jika mayoritas rakyat Aceh dan Papua ternyata ingin berpisah dari NKRI, apakah keinginan itu akan dikabulkan ?

Apakah kalimat “NKRI harga mati !” adalah kalimat yang cukup demokratis ?

5 Maret

DEMOKRASI ADALAH :

Ketika seorang peragu dapat menjadi presiden hanya berbekal pencitraan
Ketika seorang artis dapat menjadi anggota legislatif karena popularitasnya
Ketika seorang kaya dapat menjadi walikota bermodalkan hartanya
Ketika seorang teraniaya dapat menjadi bupati karena sukses meraih simpati

Maka demokrasi adakah ketika anda dapat memimpin negeri ini tanpa butuh kompetensi, karena yang dibutuhkan hanyalah popularitas dan disukai.

Mengherankan, untuk urusan sepenting ini kita dipaksa mengikuti sistem yang lebih buruk dari pada kontes televisi yang paling kampungan sekalipun.

21 Februari

Kegemilangan ummat ini hanya akan terjadi ketika ridha Allah berhasil mereka perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan kehancurannya hanya akan terjadi ketika Allah meninggalkan mereka.

Kegemilangan dan kehancuran ummat ini tak ada hubungannya dengan jumlah pengikut, asset yang dikuasai, kursi yang berhasil diduduki, atau senjata yang dimiliki. Ya, karena yang sedikit dapat mengalahkan yang banyak, senjata hanya untuk menggentarkan, asset hanyalah sarana, sedangkan kemenangan Badar hanyalah karena pertolonganNya.

Untuk itu, tak usahlah takut-takuti kami dengan kalkulasi-kalkulasi dunia. Bukan dengan cara itu kami berlogika…

13 Februari

Menonton dialog dengan Ibu Tri Rismaharini di Mata Najwa, membuat saya semakin berkeyakinan bahwa :

Ketika konstitusi hanya mengijinkan para politisi yang memimpin negara ini, maka gerakan Golput adalah kemestian yang harus diperjuangkan demi masa depan negeri ini

Karena hanya cara itu yang tersisa untuk meyakinkan khalayak bahwa kita sama sekali tak butuh politisi…

24 Januari

Golput boleh jadi pilihan yang paling tak bertanggung jawab, atau pilihan yang paling bertanggung jawab. Golput adalah kelompok yang tak punya pilihan, atau justru memiliki lebih banyak pilihan.

Sebagai sikap politik situasional, golput adalah sah. Namun, untuk dijadikan sebuah ideologi politik, tolong pikirkan lagi, apalagi untuk dikampanyekan.

Bagi yang ingin menggunakan hak pilihnya, belajarlah untuk menjadi ahli dalam memilih. Karena “suatu urusan yang diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saat kehancuran” (Hadist)

21 Januari

Hampir semua parpol menurunkan timnya untuk penanganan bencana negeri ini, baik beratribut maupun tidak.

Kalau toh banyak yang tak mempublikasikan bantuannya, itu karena mereka sadar bahwa mempublikasikan bantuan akan menyakiti hati pihak yang di bantu. Dan itu tak bagus bagi kepentingan politik praktis mereka…

Nah, bagi parpol yang rajin membantu dan rajin mempublikasikan bantuan… Jika kelak suara kalian tak naik signifikan, itu bukan masyarakat tak tahu membalas budi. Mereka hanya sakit hati..

19 Januari

Sesuai namanya, maka diantara ikhtiar yang sangat spekulatif adalah berpolitik praktis. Sangat tipis beda antara benar-salah, baik-buruk, dan akurat-melenceng.

Maka, memilih berpolitik praktis memang harus siap dengan kontroversi, polemik, kritik, bahkan kecaman. Sangat keliru jika dunia yang satu ini disikapi dengan fanatisme…

Dan aturan ini juga berlaku bagi para kritikus, pengecam atau hater : Jangan fanatik, karena akurasi pandangan anda boleh jadi juga tipis…

17 Januari

Sungguh, “Juru Kampanye” terbaik di hati setiap manusia adalah Allah. Dia akan berkampanye bagi amal-amal yang ikhlas dengan niat hanya karenaNya…

Dari sisi analisis komunikasi massa, apakah kampanye kopi gratis sesudah shalat Jum’at di sebuah masjid ini efektif ?

7 Januari

Kekuasaan itu milik Allah, Dia berikan kepada siapapun yang Ia kehendaki. Maka, orang yang beriman akan menyibukkan diri dengan keshalehan, karena itu yang Allah syaratkan bagi mandat kekuasaan :

“Sesungguhnya bumi akan diwariskan kepada hambaKu yang shaleh”

Sedangkan para pemuja kekuasaan akan mencoba memburu dan merampasnya dari tangan manusia. Sebuah perburuan yang hampa…

4 Desember

Buat polwan yang cantik dan shalihah…

Tak perlulah menunggu keluarnya peraturan tentang jilbab untuk beriman atas perintah Allah.

Karena kita tak akan pernah tahu mana yang datang lebih dulu : peraturan tentang jilbab atau ajal kita…

1 Oktober

IM di Mesir dan AnNahdhah di Tunisia memenangi pemilu, namun tak lama kemudian dimakzulkan. Ini menandakan bahwa rakyat sangat merindukan kepemimpinan Islam, namun para pemimpin Muslim gagal meraih dukungan Allah.

Lalu, tentang konspirasi musuh-musuh Allah untuk menjatuhkan mereka ? Ah, itu akan selalu ada sepanjang masa… Tapi, bukankah dengan dukungan Allah seharusnya konspirasi itu akan sia-sia ?

19 Agustus

Ust Hilmi Aminuddin : “Mari kita berdemokrasi secara fair”

Masalahnya, apakah demokrasi itu fair ?

Fairkah jika kebenaran itu ditentukan oleh voting ?
Fairkah jika kekuasaan itu dimiliki oleh mayoritas ?
Fairkah jika suara ulama dan suara durjana diperlakukan sama ?
Fairkah jika Si Bodoh kaya mengalahkan Si Cerdas miskin dalam pilkada ?
Fairkah jika Si Shaleh nan tawadhu’ dikalahkan Si Fasik nan populer dalam pemilu ?